Kontributor

Kamis, 28 Desember 2017

The Pianist And Me (Dari Seorang Fan Menjadi Teman Dekat) #Pria Berbaju Tentara Nazi#



Salatiga 2009
Aku tiba di kos – kosan cewek yang jauh hari sudah ku booking. Aku sangat suka bangunannya yang oriental, bahkan ada patung naganya, meski bangunan ini tua, dingin, dan menyeramkan. Serius, serem banget karena tiap malam kamarku selalu didatangi cewek cantik berambut panjang berbaju putih yang dulu matinya bunuh diri di menara airnya. (Yang ini beneran soalnya Ibuku sempat berkonsultasi dengan seseorang di parokiku yang memiliki "kelebihan")
Kendati demikian aku tetap senang, secara dekat Gereja Katolik. Aku bisa jalan kaki ikut misa pagi tiap hari mumpung belum sibuk ^_^
Begitulah tiap pagi aku ke gereja. Sampai suatu pagi di hari minggu, aku melihat dia, dia duduk 3 sampai 4 baris di depanku. Kalau kamu mengira aku jatuh cinta pada pandangan pertama, kamu salah. Aku penasaran kenapa di tahun 2009 ada orang yang berpakaian ala tentara Nazi persis seperti yang ku lihat di buku sejarah perang dunia ke dua, lengkap dengan atributnya dari kepala sampai ujung kaki.
Tapi di hari – hari selanjutnya, di minggu – minggu kemudian aku gak melihat dia lagi.
Sampai pada saat semester antara, karena ayahku sakit dan kiriman dari ibu tidak menentu, akupun bekerja di sebuah toko tas import… aku yang waktu itu sedang bersih – bersih toko melihatnya berjalan kaki dari arah tempat les musik.
Aku baru menyadari kalau dia cukup tampan. Tapi siapakah dia? Kenapa dia selalu memakai pakaian itu?

Minggu, 24 Desember 2017

Gabriel...! #Natal pertama kita#



Sebentar lagi Natal 2017, Raka….
Apa kamu ingat kekonyolanmu menjelang Natal waktu itu?
Tengah malam, kamu menelponku. Kamu menyapaku dengan kata makian,
“Jangkrik…..!!”
“Maaf, salah sambung… nama gue bukan jangkrik”
“eh sorry, bukan. Gue kaget barusan ada kecoa masuk”
“Kecoa apa Jangkrik sih, maunya??!!”, aku mulai kesal.
“Eh Jangkrik, bentar lagi kan Natal. Nyanyi dong.. Holy Night…”
“Kalau gue Jangkrik, lu Jerapah… Apaan sih, ini kan tengah malam… berisik, ganggu tetangga aja”
“Sebelum liburan,, nanti kalau libur panjang, pasti aku akan kang….”
Gangguan sinyal, suaranya berubah kemresek… aku jadi gak dengar apa yang ia katakan.  
“Haloo, Ka… Kamu tadi bilang apa? Gangguan sinyal niihh”
“Gak jadi, sekarang nyanyi aja. Holy Night ya…”
“Yang nyanyi Celline Dion, kan… Aku gak hafal”
Eh, yang ada dia malah nyanyi – nyanyi sendiri diseberang sana, sementara kupingku panas.
Sial ini udah jam 2… Huaaa… aku pengen tiduuurr
“Raka, ini udah jam berapa? Kamu gak mau tidur kah? Jam 7.00 kan kita kuliahnya Pak Butje”
“Bentar lagi ya, kan kita gak akan ketemu dalam jangka waktu sebulan”
Tiba – tiba mati, ku cek ternyata hapeku lowbatt.
hihihi… asiikk akhirnya aku bisa tiduurrr
Esok harinya, tak ku temukan kamu di kelas… hmmm,, pasti kesiangan….

Sabtu, 23 Desember 2017

Gabriel...! #Cowok Angkuh Dari Jakarta Part 2#



Kamu ingat? Soal kesombonganmu yang menyebalkan itu pernah ku protes.
“Aku males disini, orangnya banyak nanya…”, keluhmu.
“Kamu lupa? Ini bukan Jakarta. Ini Salatiga, kota kecil di Jawa Tengah. Beda budaya lah. Kalau di Jakarta kamu terbiasa dengan orang yang individualis, disini belajarlah untuk peduli sesama dan ramah”
Sejak itulah aku mengajarimu banyak hal.
Kamu itu lahir di Jepara, tapi gak bisa bahasa jawa sama sekali dan banyak budaya jawa yang kamu belum tahu karena sejak kecil kamu sekeluarga harus ikut papamu yang nahkoda itu pindah ke Ibukota. Karena itu, kamu sering ngajak aku ke pasar yang ada di jalan Jendral Sudirman, Salatiga. Kamu minta aku menemanimu belanja sekaligus jadi translator bahasa jawa, padahal aku juga gak banyak pakai bahasa jawa dalam pergaulanku sehari – hari.
Menemanimu belanja itu bikin aku cepat kurus. “Bakar Lemak” istilahnya. Kamu itu seperti angin yang gak bisa diprediksi akan berhembus kemana. Sebentar kamu hinggap di tempat penjual buku, sebentar kemudian kamu udah di depan kios makanan tradisional. Sementara aku mengikutimu di belakang dengan setia.
Berkali – kali kamu melihatku yang selalu ada dibelakangmu. Menanyakan apakah aku lelah mengikutimu yang banyak gerak itu. Atau menanyakan apakah aku lapar atau haus. Aku menggeleng. 
padahal aslinya laper banget dan kakiku sangat lelah 😌
“Serius, Nov. Kamu gak mau aku belikan sesuatu?”
“Gak, aku gak ingin apapun”
Aku gak mengerti perasaan ini : “senang ketika melihat dia bahagia”. Aku senang melihatmu bahagia ketika di pasar. Dan aku juga sabar banget menjelaskan banyak hal kepadamu; menjawab semua pertanyaanmu tentang semua yang yang tak kau temukan di Jakarta, tapi kamu temukan di Salatiga. Seperti perasaanku padamu, yang tak pernah ku temukan sebelumnya.

Jumat, 22 Desember 2017

Gabriel...! #Cowok angkuh dari Jakarta part 1#



Salatiga, 2009
Raka, apakah kamu ingat saat kita pertama bertemu?
Semester pertama bagi mahasiswa baru dimulai, saat itu adalah pertama kalinya masuk kelas. Tak kusangka aku akan menemukan pengalaman cinta pertama kali disini.
Awalnya aku gak terlalu memperhatikan kamu. Kamu begitu hening, dan selalu memilih duduk memisahkan diri tanpa kelompok. Ah, iya…. kita sama – sama satu wali studi, Bapak Arief Sadjiarto. Pertama kali aku mengajak bicara duluan, ketika menunggu kelas dimulai.
“Hey, kamu namanya siapa?”
“Raka….”, jawab kamu cuek dan tak menoleh sedikitpun padaku
 Dih sombong banget ni orang… pikirku
Okelah kesan pertamanya jelek banget, coba bayangin tangan sudah disodorkan tapi malah dicuekin, bahkan orang yang ngajak kenalan gak dilihat.
Dan, taukah…. Seminggu di awal di tiap mata kuliah, aku selalu ketemu kamu…. Ternyata semua mata kuliah yang aku registrasikan sama dengan yang kamu ambil… Godness…!!!
Tapi meskipun kamu sombong, aku tetap berusaha ramah… aku selalu mengajak kamu ngobrol,, meskipun dicuekin… 😑
Sumpah deh aku nggak ngerti, ni cowok ganteng kagak, sombongnya selangit.
Hari persiapan makrab pun tiba, aku berharap sekelompok dengan salah satu saja anggota genk ku. Genk yang isinya 7 orang cewek : Sisca, Kristi, Cahya, Dewi, Norma, Marine, dan aku Novita.
Sialnya, ketika pembagian kelompok makrab progdi, gak ada satupun anggota genk yang sekelompok sama aku. Yang ada nama kita dibacakan dalam satu kelompok. Coba kamu bayangkan harus kerjasama dengan orang yang karakternya seperti itu. Tapi sungguh diluar dugaan justru kita bisa menjadi partner yang solid. 
Maaf, aku telah salah menilaimu… 
Bahkan lebih dari itu, sepertinya cupid telah menembakkan panah tepat di hati kita berdua. Aku dan kamu mulai saling memperhatikan satu sama lain. Dimulai dari nanya sudah makan apa belum meskipun sebenarnya basa basi belaka, ya iyalah udah gede gak usah ditanya soal makan, kalau lapar ya makan sendiri. Dan aku ingat kita saling mencari bila salah satu tidak ada dalam kelompok. Gak lihat kamu, aku merasa janggal.
Selama makrab berlangsung kita sering terlihat berdua. Pantas saja kalau kemudian berhembus kabar kita pacaran, padahal kita gak pernah pacaran sampai akhir perjumpaan denganmu. Kalau waktu makan siang atau sarapan, kamu belum juga terlihat, aku segera menelpon sebelum makanan habis dimakan mahasiswa – mahasiswa kelaparan.
Puncak dari acara makrab adalah malam inagurasi. Aku ingat ketika itu kelompoknya Iblis ngedance. Kita berdua duduk paling belakang. Saat semua cowok posisi duduknya maju, melihat seksinya Iblis ngedance. Kamu gak beranjak sedikitpun dari sampingku.
Suasana dalam gedung itu remang – remang. Meski riuh musik dance dan ributnya mahasiswa mahasiswi. Tapi diantara kita berdua, terdiam cukup lama. aku mencoba memecah keheningan diantara kita berdua,
“Semua cowok maju ke depan, kog kamu masih disini?”
“ Gak, ah…”
“Iblis kan seksi, kamu gak suka?”
“ kamu tahu gak, bedanya seksi sama manis?”
Aku menggelengkan kepala.
“ Seksi itu bikin cepet bosan, kalau manis itu awet, gak hilang –hilang”
Sejenak kemudian anak – anak tertawa, melihat Yosep tampil ngedance dengan dandanan cewek. Aku melihat ke arahmu yang sedang tertawa. Aku baru menyadari kalau hal termanis di dunia ada tepat di sampingku saat itu.
Makrab Program studi adalah kesempatanku untuk mengenal lebih jauh kamu, cowok berkulit gelap bertubuh cungkring dengan tinggi 170an. Termasuk ketika kamu cemburu, begitu lucu dan manis. Kamu ingat pertama kali kamu kesal padaku?.
Aku ingat ketika acara makrab selesai dan kita kembali ke Salatiga. Padatnya sesi acara makrab membuat tubuhku gak kuat menahan lelah. Padahal pulangnya naik truk. Aku yang dari awal milih berdiri di depan biar bisa sandaran di pojokan, beneran ketiduran padahal banyak cowok disitu. Ketika sadar, samar – samar yang ku lihat kamu berdiri di depanku, menatapku kesal. Loh… loh kan kamu kan tadi di bagian paling belakang??. Aku benar – benar malu ditatap terus seperti itu. Aku kemudian berdiri berbalik melihat pemandangan pepohonan, pura – pura gak lihat.
Aku selalu bertanya – tanya, Raka…. Ini pertama kalinya aku melihat reaksi tak biasa dari lawan jenis… aku bingung sebenarnya kamu kenapa?
(bersambung)