Kontributor

Rabu, 06 Februari 2013

Mahatma Gandhi: CINTA KASIH DAN POLITIK

Saya tidak pernah percaya bahwa kasih dan politik dapat bersatu, kecuali dalam diri Mahatma Gandhi. Sosok tersebut sangat menarik bagi saya. Beliau tak hanya mewakili seorang agamais Hindu, namun juga seorang Intelektual dan tokoh pergerakan.
hal ini dapat terjadi karena berpolitik didasari atas panggilan jiwa terhadap keprihatinan pada sesama yang tertindas dan menderita. Tentunya dibarengi tindakan dan pemikiran yang membuktikan kedewasaan dan kematangan Intelektual personal.
jarang sekali ada yang sanggup mencapai kematangan intelektual setinggi Mahatma Gandhi, karena pemikirannya tak lekang oleh waktu. terus hidup bahkan bertahun - tahun  setelah beliau tiada.

Senin, 28 Januari 2013

sikap intelektualitas ( Novi's DIARY 27 Januari 2013)

Ingatlah pelajaran hari ini....!!!!
Seharusnya sekolah dapat membuat perbedaan yang jelas dalam kehidupan para siswa, lulusan, maupun semua orang yang pernah bersekolah, dari perubahan TINGKAH LAKU, sesuai pada hakikat belajar itu sendiri.
tingkah laku itu perubahannya kearah positif : KEDEWASAAN, laiknya tujuan pendidikan itu.
artinya dapat berpikir rasional, objektif, mampu melihat setiap fenomena yang terjadi di lingkungan secara bijak, dengan mengesampingkan emosi, mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan nilai - nilai luhur kemanusiaan, menggunakan akal dan pikiran secara sehat dan terbuka luas, mampu mendengarkan nurani, dan menjunjung tinggi intelektualitas.....
Namun kini aku tak melihat hal itu. jelas mengapa kualitas Sumber Daya Manusia begitu rendah.
sikapnya tidak mencerminkan pernah bersekolah, semua kejadian dimengerti hanya pada emosi dan keuntungan subyektif. semua hal ditelaah secara menggebu tanpa memperluas pemikiran : BAGAIMANA DAMPAK DARI SETIAP TINFDAKAN YANG DIAMBIL

Kamis, 24 Januari 2013

KOLOKIUM : KETIKA MIMPI BERHADAPAN DENGAN REALITA


Ketika saya menulis ini, belum sekalipun saya pernah hadir menyaksikan ujian proposal skripsi, atau yang umumnya disebut dengan kolokium. Namun beberapa hari yang akan datang, saya akan maju dalam sebuah kolokium. Membawa gagasan, mencoba bertahan diantara mekanisme tawar – menawar antara dosen dengan mahasiswa.
Beberapa teman menganggap ini adalah awal dari sebuah pembantaian. Namun yang ada di benak saya, mungkin seperti ketika saya sakit lalu ke dokter. Ketika dokter menganjurkan penyuntikan, seperti itulah bayangan saya mengenai kolokium. Rasa sakitnya mungkin cuma beberapa saat bercampur dengan ketegangan psikologis antara tubuh yang dimasuki benda asing : cairan obat dan jarum suntik. Namun kita akan melihat manfaat jangka panjangnya. Itulah kolokium di benak saya.
Berhari – hari berpikir dan mengetik, itulah pekerjaan saya (dan bukan cuma saya). Apa yang saya tulis dalam proposal adalah sebuah gagasan. Layaknya orang muda yang memiliki banyak ide segar (atau bisa diartikan mimpi/impian) yang kadang dianggap tidak realistis. Semua berbenturan pada kendala keadaan realita.
Ide itu semacam benih yang hendak tumbuh, lalu semua bergantung pada tanah tempatnya tumbuh, kelembaban, air, intensitas cahaya dan temperatur. Begitupun penelitian yang akan dilakukan nantinya bergantung pada keadaan realita. Kolokium diadakan untuk mengetahui seberapa realistisnya gagasan seseorang, apakah gagasan tersebut dapat diterima atau tidak.
Persoalannya buat saya yang berat adalah bagaimana membawa teori yang kita terima di kelas selama perkuliahan kedalam kehidupan nyata. Tidak semudah itu, ternyata. Seolah diantara dunia teoritis dan empirik itu ada tembok yang susah untuk ditembus. Apa yang kita hadapi adalah kejadian nyata bukan lagi pemikiran yang abstrak.
Toh kita tidak harus menanggapi ini dengan lebay. Yang kita harus lakukan adalah hadapi dengan semampunya. Nanti ketika kita keluar dari perguruan tinggi, perubahan tingkah laku kita akan terlihat, kita berpikir bukan emotif. Namun, lebih dari itu, sebuah gagasan akan juga akan kita pilih berdasarkan kriteria fakta, agar tidak sebatas impian muluk. Juga bagaimana kita akan bertahan dari persepsi orang tentang gagasan kita. Semoga kita dapat mengaplikasikan ilmu yang kita terima dalam kehidupan nyata

Senin, 21 Januari 2013

Hasil cetak pendidikan Indonesia


Suatu kali, di suatu sore di bangku teras rumah. Saya duduk – duduk bersama dengan seorang sahabat masa kecil saya sebut saja namanya Ijul. Setelah bertahun – tahun kami tidak berjumpa. Lepas SMA dia melanjutkan S1 Teknologi Pangan di sebuah Universitas yang cukup terkenal dengan beasiswa. Tahun kedua sudah bekerja sebagai asisten dosen dan tahun ketiga sudah skripsi. Tiga setengah tahun dia rampungkan studinya yang cukup berat itu dengan prestasi – prestasi yang amat memuaskan. bahkan sebelum dia wisuda sudah banyak tawaran pekerjaan berdatangan. Hanya satu tawaran dia terima di sebuah pabrik makanan di Jakarta.
Berbeda dengan saya yang kuliah tersendat – sendat, sekarang baru di semester tujuh dan baru praktek di sebuah sekolah. Saya agak mengeluh dengan sistem pembelajaran dikampus yang membuat saya “Kesulitan bernafas”. Bayangkan tugas setumpuk tiap hari. Saya pikir saya ini apakah bukan manusia? Jadi seperti robot yang terprogram : habis kuliah – pulang mengerjakan tugas sampai malam. Atau yang parah : Praktek di sekolah – kuliah di kampus – pulang kost berkutat dengan tugas. Pada akhirnya saya merasa kehilangan dunia sosial saya dengan teman – teman.  Padahal dunia sosial pun dapat memperluas cakrawala pengetahuan saya selama tepat sasaran.
“Apa yang kamu dapatkan selama kuliah, Jul?”, sebuah pertanyaan terlontar dari saya.
“banyak kog, teman, pengalaman dan ilmu”
“ah kalau teman, pengalaman dan ilmu sih aku bisa dapatkan tanpa kuliah. Aku di rumah bergaul dengan tetangga, aku membaca buku dan koran. Aku pergi ke berbagai tempat pasti dapat pengalaman. Di kuliah aku merasa cuma dapat tugas yang banyak. Tapi tak satupun ilmuku berkembang”
“hahahaha, kamu merasa begitu ya? Sabar saja. Nanti habis selesai kan kamu juga dapat ijazah yang akan membuatmu bernilai”
Saya hanya diam dan berpikir dalam hati. Bayi baru lahir kan belum punya ijazah tapi bernilai kog sebagai manusia?. Apa manusia hanya dinilai dan ataupun dihargai hanya dengan selembar kertas IJAZAH tanda lulus bertuliskan nama yang ada cap universitas dan tanda tangan rektor? Sampai sekarang saya masih belum bisa mengerti : apa yang saya dapatkan selama kuliah dengan sistem yang seperti ini dan mengapa manusia dengan mudah menilai sesamanya dengan selembar ijazah.
Pendidikan sebagaimana yang dicetuskan oleh Langeveld sebagai setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu[1] merupakan alat atau instrumen dari belajar. Belajar sendiri adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat[2]. Jadi kita tahu bagaimana seharusnya antara proses (belajar) maupun sistem (pendidikan) harus sejalan dan bersama. Belajar merupakan hasil dari stimulus sebagai input dan respon sebagai output. Dari seorang anak yang belum bisa berjalan sampai bisa berjalan kemudian dapat berlari dikatakan telah mengalami proses belajar.
Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar tidak hanya berupa penambahan pengetahuan saja. Ada tiga ranah yang dapat dicapai dalam proses belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Dan hendaknya pendidikan sebagai alat dapat membantu ketercapaian ketiga ranah tersebut guna  mengarahkan pada tujuan dari pendidikan itu sendiri.
Tujuan dari pendidikan menurut Langeveld sebagaimana terkandung dari definisi diatas adalah kedewasaan. Kedewasaan itu berproses, sehingga ada istilah pendidikan sepanjang akhir hayat. Manusia hidup bersosial dengan sesama, mengalami banyak pengalaman dan menemukan makna, ada proses belajar di setiap hari agar fleksibel dan selalu mampu beradaptasi terhadap perubahan situasional yang ada. Dalam hal ini pendapat Langeveld kurang kuat mendeskripsikan tujuan dari pendidikan. John Dewey memperluas kecakapan yang dituju oleh pendidikan tidak hanya peserta didik mampu mandiri melaksanakan tugas hidupnya. Namun juga meliputi kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan dan sesama manusia. Manusia yang telah dididik akan memiliki kemampuan untuk hidup sebagai anggota masyarakat.  
Permasalahan yang kerap terjadi adalah output yang dihasilkan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan. Secara kecakapan kognitif kita selalu lebih baik dari tahun ke tahun. Khususnya di era kecepatan arus informasi dan peran teknologi. Kita dapat mengakses ilmu pengetahuan secara cepat dan global melalui internet. Berbagai buku elektronik (e-book), hingga pembelajaran berbasis teknologi seperti e-learning sangat memudahkan kita dalam pendidikan. Hanya informasi dan teknologi kita tidak menjamin kecakapan lainnya terutama ranah afektif yang juga sangat berperan dalam kehidupan kita. Persoalan yang sepele yang sering kita lakukan misalkan menghargai orang lain. Dengan teknologi dan informasi yang sedemikian rupa, sudahkah kita menghargai kekayaan intelektual orang lain?. Sementara pemberi stimulus di lembaga pendidikan (dalam hal ini guru) kebanyakan hanya memberikan stimulus kognitif. Sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal pada umumnya hanya  menginginkan target hasil belajar secara kuantitatif terpenuhi. Kalau siswa sudah dapat memenuhi standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), merasa sudah ayem tidak ada pencapaian lainnya. Akibatnya jangan heran bila banyak kasus mencontek masal terungkap. Sebenarnya ini sudah menjadi rahasia umum. Saat ini, pendidikan merupakan salah satu indikator berhasil atau tidaknya sebuah pemerintahan. Kegagalan pendidikan terutama dalam hal meluluskan output dapat menjadi tolak ukur kegagalan pemerintah masing – masing daerah. Pemerintah masing – masing daerah tentu tahu adanya praktek kecurangan yang terjadi sewaktu ujian nasional, namun memilih bungkam daripada di cap gagal. Entah apakah pemerintah pusat tahu tetapi tutup mata terhadap realita ini. Yang jelas kita tidak mampu mengingat hakikat tujuan dari pendidikan tersebut. Pendidikan di Indonesia terlalu banyak ternodai masalah mulai dari sistem pendidikan, mental oknum lembaga pendidikan, korupsi dan sebagainya. Sangat disayangkan bila pendidikan bila pendidikan di indonesia pada akhirnya mencetak generasi yang cakap secara kogntif namun tidak memiliki kematangan intelektual. Setiap tahun berapa banyak universitas kategori terbaik menghasilkan ribuan mahasiswa dengan IPK yang memuaskan dan sejumlah  predikat yang keren beken. Namun jika kita lihat hanya segelintir yang mampu turut serta membangun masyarakat kita. Lalu sekolah bertahun – tahun buat apa? Ilmu yang didapatkan ternyata tidak bisa diaplikaskan dalam kehidupan riil.
Inilah realita dari pendidikan di negara kita, Indonesia. Pendidikan yang seharusnya dikaji ulang bagaimana kualitas proses dan outputnya. Masihkah kita akan menilai manusia dari selembar ijazah dengan nama, IPK, sederet titel atau tanda tangan diatasnya, yang sebenarnya tak berarti apa – apa?. Atau haruskah kita berbangga hati dengan ijazah yang kita dapatkan tanpa ada perubahan tingkah laku kita?

Minggu, 14 Oktober 2012

seorang wanita dan sepotong ambisi : IBUKU, STRONG WOMAN

CEWEK TUKANG NGOROT!!!!, itulah yang terngiang dan tertancap di dadaku sebagai sebuah luka. Heyy, siapa kamu??? Kamu tak mengenal aku. Jelas kamu salah. dengan keteladanan seorang Ibu yang mandiri. aku melihat bahwa seorang wanita bisa berbuat lebih dari seorang laki - laki, tanpa melupakan kodratnya. Dengan niat, dengan tekad ditangannya. Ibulah yang menegakkan kembali tiang - tiang perekonomian keluarga kami. dengan tiga pilar, untuk ketiga putri yang amat dicintainya. Putri - putri yang terkondisikan untuk menjadi kuat, berani dan tangguh. dan juga sifat - sifat maskulinitas yang lainnya.

Sejak ayah sering sakit? siapa yang membetulkan genting rumah? yang naik ke atap dengan tangga? IBU yang melakukannya. dan kami, putri - putrinya saling menjaga dan saling membantu satu sama lain. terutama untuk adik kecil kami. dan kami melakukannya dengan tulus. Aku, anak tertua di keluargaku juga menyadari tanggung jawabku pada keluargaku, kdua orang tuaku dan kedua adikku.tidak pernah aku meminta banyak dari orang tuaku, apalagi laki - laki yang baru ku kenal. Aku selalu berusaha sebelum meminta, karena terbiasa. sebagai anak pertama, aku lah yang melihat bagaimana usaha orang tuaku. tak mudah membangkitkan kembali gairah keuangan keluargaku. Ibu pernah berjualan gorengan, kerupuk, makaroni, sampai usaha sprei. semua jatuh bangunnya tidak hanya ku lihat, tetapi ku rasakan juga sebagai seorang anak.

Ibu berhasil membiayai sekolah putri - putrinya. semua kebutuhan rumah terpenuhi, termasuk pinta manja si kecil, adik kami. aku menyebut beliau "THE STRONG WOMAN". beliau wanita terkuat yang pernah ku lihat, tidak meninggalkan ayahku disaat jatuh, bahkan berusaha sekuat tenaga untuk keluarga. bukan wanita egois yang mementingkan kepentingan prribadi, bukan wanita gila belanja, bahkan malah berkorban waktu dan kesempatan untuk kesenangannya. beliau selalu siap sedia untuk kami, membimbing kami. beliau sangat sederhana bahkan jarang berdandan, tetapi bagiku, beliau tanpa dandanan pun sudah cantik.

satu pesan Ibuku : "jadilah wanita yang mandiri dan tidak tergantung laki - laki, sebagai wanitapun, harus bisa  mengandalkan diri sendiri setiap saat. dan itulah Ibu, bukan wanita yang hanya ongkang - ongkang kaki, menunggu gaji bapak. telah banyak ku jumpai Ibu teman - temanku yang seperti ini, mereka wanita yang luar biasa karena bisa survive. dan saya bangga sebagai wanita terhadap mereka:)

Dan, inilah hasilnya. Tiga pilar untuk ketiga putrinya, agar rumah kami tak runtuh. keberanian, kekuatan, ketangguhan, ketabahan, dan keutamaan jiwa, yang membentuk kami. tak lupa kebersihan hati bapak, karena bapak bukan PNS yang Korup!!! bahkan dengan jabatan yang Wooowww sekalipun, kami tak punya mobil, hanya satu motor butut yang lama telah dijual. inilah benih - benih sifat kami. kami bukan orang desa, bayangkan orang kota, jabatan Wooowww, gak punya banyak harta, tetapi kami kaya akan cinta. ini keluarga kami yang sederhana dan damai.



Selasa, 31 Juli 2012

sebuah catatan di awal semester

Semester ini yang paling dinanti semua anak angkatanku, 2009, terutama para mahasiswi. bagaimana tidak?? ini semester 7, waktunya PPL. dalam benak kami, kami mengajar di sekolah - sekolah yang ditunjuk. dikelas, dengan murid 30hingga 40 anak. jauh hari, banyak mahasiswi yang telah mempersiapkan segalanya. dari berburu kemeja putih, rok span hitam, tas wanita, ke salon dan perawatan badan. menjadi ibu guru, rupanya juga menjadi cantik di kelas. aku hanya menonton mereka. aku sendiri tak tahu bagaimana cantik itu.

"Rambut di ikat cepol biar kelihatan rapi dan cantik", begitu kata pak Bambang, yang akan membimbing kami PPL. aku hanya terdiam heran, karena ku pikir kalau PPL ini aku potong rambut sependek mungkin, malah terlihat jauh lebih rapi. diprotes gak ya???? :P. sama seperti bila masuk akademi militer, yang perempuan kenapa gak boleh rambut panjang???. Ah, memang di Indonesia ini, negara paling rempong, kebanyakan aturan.

By the way on the busway nih, PPL memang juga ku nanti dengan hati yang tak karuan.  Heiii, aku akan jadi seorang guru. Emaaaakkk,, anakmu ngajar nih lho.... :)
tapi di sisi lain, gimana muridku nanti??? gimana kalau aku jadi guru yang gak baik??? takuuutttt.  :'(
Ibuku dalam sebuah smsnya menekankan bahwa beliau sangat berharap, aku, anak pertamanya menjadi pegawai. memang jadi pegawai itu enak??? tanggung jawabnya besar. ah Ibu, ada - ada saja,,, jadi apapun aku, aku akan bertanggung jawab pada keluarga.
tentu ku lihat hanya bapak satu - satunya PNS yang paling disiplin (ini sifat yang gak nurun ke aku)
KALAU IBU INGIN AKU JADI PEGAWAI HANYA UNTUK MENGEJAR HARTA,,, MAKASIH BU,,, MENDING ANAKMU JADI PENGUSAHA SAJA :D
..................
di sisi lain, aku juga pusing,,, adikku butuh uang untuk daftar ulang, dan ditanggal yang sama aku harus registrasi mata kuliah, padahal aku belum bayar semester ini.... waaadddoooowww, celaka nih. bisa lancar gak ya...... ah, aku pusing,,, namun tidak tahu harus berbagi dengan siapa,,, hanya dalam diam aku memendam semua ini. jika aku gak PPL sekarang, tidak apa. aku semalaman sudah berpikir, jika cuti kuliah adalah jalan yang harus ditempuh. lebih penting adikku, aku sudah pernah kuliah, dan aku ingin dia juga merasakan kuliah dengan lancar. :'(


Rabu, 04 Juli 2012

Tulang rusuk???? (sebuah renungan)


Dear Diary,
Ku pikir aku ini gila juga. Aku masih belum menikah. Aku juga masih sering risau dengan jodohku. Aku masih muda dan masih belum banyak belajar semua tentang kehidupan. Aku malah hari ini menulis tentang tulang rusuk. Betapa aku ini naif dan sok tahu. (aku menghakimi diriku sendiri). Hidup memang misteri Ilahi.
Alberta Novita, 4 Juli 2012
……
Persoalan teman hidup memang merupakan pertanyaan besar bagi sebagian para muda. Jodoh itu memang misteri hidup. Kita, diciptakan berpasangan sesuai dengan firman Allah (Kej 2:18) “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”. Dari sini, ada tiga point yang baik bila kita lihat dengan seksama. Pertama, oleh karena kasih – Nya, Allah melihat bahwa kita tidak baik untuk sendiri. Oleh karena itu, Allah memberikan kita teman hidup yang berperan untuk menolong kita. Dan point yang terakhir adalah Allah memberikan bagi manusia, pendamping yang sepadan. Bayangkan, perjumpaan kita dengan penolong kita yang sepadan adalah bagian dari karya agung Allah.

Akan tetapi, perjumpaan itu melalui sebuah proses yang amat panjang dan tidaklah mudah. Jika kita melihat secara lebih rinci di ayat – ayat berikutnya (Kej 2:19-20), ~ [19] lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan burung di udara. Dibawa – Nyalah semua kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap – tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. [20] Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung – burung di udara dan segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia ~. Jadi, kita dapat melihat bahwa selama proses tersebut berjalan, manusia akan memilih – milih “penolong yang sepadan” baginya. Tidak heran bukan, bila kita menemukan banyak orang yang dalam proses tersebut. Entah sedang melakukan pendekatan atau dalam proses berpacaran.

Karena masih belum menemukan “penolong yang sepadan”, lagi – lagi, Allah memberikan pertolongan (Kasih Allah sungguh besar kepada manusia^^). DibuatNya manusia itu tidur nyenyak, lalu Allah mengambil salah satu rusuk daripadanya. Dan menutup tempat itu dengan daging. Mari kita lihat, dari ilustrasi itu, mungkin si Adam sudah terlalu lelah tidak menemukan pasangannya diantara sekian ribu ciptaan Allah, sehingga ia tertidur lelap. Tertidur nyenyak dapat berarti kita dalam kondisi tidak sadar atau tidak memikirkan apapun, dalam artian sibuk dengan dunia kita. Disitulah Allah mengambil peran memberikan kita seorang “teman” yang mungkin tidak kita sadari pula.

Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun – Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa – Nya kepada manusia itu (Kej 2:22). Ketika kita dalam kondisi tidak sadar, Allahlah yang membawa penolong yang sepadan itu kepada kita. Dengan cara – Nya yang indah.

Pada akhirnya, waktu membuktikan atas apa yang kita yakini. Sama ketika manusia itu berkata “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.”(Kej 2:23). lalu, oleh sebab itu, seorang laki – laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah ilustrasi yang dikatakan didalam kitab suci, terlepas dari benar atau tidaknya. (kitab kejadian juga masih dipertanyakan karena waktu Allah menciptakan manusia, siapa yang mencatat semua itu??? hanya Allah yang tahu ^_^)