With all their flaws and uniqueness, all women are beautiful and special. They were born and became Queens in their own way
a melancholist's journal: in deepest sea... I found blue.. it's calm, peaceful and so deep
Sabtu, 06 Januari 2018
Jumat, 05 Januari 2018
Resolusi is bullshit that people says every new year
Aku gak akan ngomongin resolusi, cuma "what i want to do"
Aku hanya ingin menajamkan skill saja...
Gak muluk ingin ini ingin itu... Sesuatu yang sederhana aja...
Aku hanya ingin menajamkan skill saja...
Gak muluk ingin ini ingin itu... Sesuatu yang sederhana aja...
Rabu, 03 Januari 2018
あおい (AOI)
(*'-'*)ノはじめましてヽ(*'-'*)
私は あおいです。。。。
Every girls and womans in the world, with their uniqueness, are special and beautiful, whatever their flaws, and whatever happens....
.
And they were born to be QUEENS in their own ways....
私は あおいです。。。。
Every girls and womans in the world, with their uniqueness, are special and beautiful, whatever their flaws, and whatever happens....
.
And they were born to be QUEENS in their own ways....
Kamis, 28 Desember 2017
The Pianist And Me (Dari Seorang Fan Menjadi Teman Dekat) #Pria Berbaju Tentara Nazi#
Salatiga 2009
Aku tiba di kos – kosan cewek yang
jauh hari sudah ku booking. Aku sangat suka bangunannya yang oriental, bahkan
ada patung naganya, meski bangunan ini tua, dingin, dan menyeramkan. Serius,
serem banget karena tiap malam kamarku selalu didatangi cewek cantik berambut
panjang berbaju putih yang dulu matinya bunuh diri di menara airnya. (Yang ini beneran soalnya Ibuku sempat berkonsultasi dengan seseorang di parokiku yang memiliki "kelebihan")
Kendati demikian aku tetap senang,
secara dekat Gereja Katolik. Aku bisa jalan kaki ikut misa pagi tiap hari mumpung
belum sibuk ^_^
Begitulah tiap pagi aku ke gereja.
Sampai suatu pagi di hari minggu, aku melihat dia, dia duduk 3 sampai 4 baris
di depanku. Kalau kamu mengira aku jatuh cinta pada pandangan pertama, kamu
salah. Aku penasaran kenapa di tahun 2009 ada orang yang berpakaian ala tentara
Nazi persis seperti yang ku lihat di buku sejarah perang dunia ke dua, lengkap
dengan atributnya dari kepala sampai ujung kaki.
Tapi di hari – hari selanjutnya, di
minggu – minggu kemudian aku gak melihat dia lagi.
Sampai pada saat semester antara, karena
ayahku sakit dan kiriman dari ibu tidak menentu, akupun bekerja di sebuah toko
tas import… aku yang waktu itu sedang bersih – bersih toko melihatnya berjalan
kaki dari arah tempat les musik.
Aku baru menyadari kalau dia cukup tampan. Tapi
siapakah dia? Kenapa dia selalu memakai pakaian itu?
Minggu, 24 Desember 2017
Gabriel...! #Natal pertama kita#
Sebentar lagi Natal 2017, Raka….
Apa kamu ingat kekonyolanmu menjelang Natal waktu itu?
Tengah malam, kamu menelponku. Kamu menyapaku dengan
kata makian,
“Jangkrik…..!!”
“Maaf, salah sambung… nama gue bukan jangkrik”
“eh sorry, bukan. Gue kaget barusan ada kecoa masuk”
“Kecoa apa Jangkrik sih, maunya??!!”, aku mulai kesal.
“Eh Jangkrik, bentar lagi kan Natal. Nyanyi dong..
Holy Night…”
“Kalau gue Jangkrik, lu Jerapah… Apaan sih, ini kan
tengah malam… berisik, ganggu tetangga aja”
“Sebelum liburan,, nanti kalau libur panjang, pasti
aku akan kang….”
Gangguan sinyal, suaranya berubah kemresek… aku jadi
gak dengar apa yang ia katakan.
“Haloo, Ka… Kamu tadi bilang apa? Gangguan sinyal
niihh”
“Gak jadi, sekarang nyanyi aja. Holy Night ya…”
“Yang nyanyi Celline Dion, kan… Aku gak hafal”
Eh, yang ada dia malah nyanyi – nyanyi sendiri
diseberang sana, sementara kupingku panas.
Sial ini udah jam 2… Huaaa…
aku pengen tiduuurr
“Raka, ini udah jam berapa? Kamu gak mau tidur kah?
Jam 7.00 kan kita kuliahnya Pak Butje”
“Bentar lagi ya, kan kita gak akan ketemu dalam jangka
waktu sebulan”
Tiba – tiba mati, ku cek ternyata hapeku lowbatt.
hihihi… asiikk akhirnya aku
bisa tiduurrr
Esok harinya, tak ku temukan kamu di kelas… hmmm,,
pasti kesiangan….
Sabtu, 23 Desember 2017
Gabriel...! #Cowok Angkuh Dari Jakarta Part 2#
Kamu ingat? Soal kesombonganmu yang menyebalkan itu
pernah ku protes.
“Aku males disini, orangnya banyak nanya…”, keluhmu.
“Kamu lupa? Ini bukan Jakarta. Ini Salatiga, kota
kecil di Jawa Tengah. Beda budaya lah. Kalau di Jakarta kamu terbiasa dengan
orang yang individualis, disini belajarlah untuk peduli sesama dan ramah”
Sejak itulah aku mengajarimu banyak hal.
Kamu itu lahir di Jepara, tapi gak bisa bahasa jawa sama
sekali dan banyak budaya jawa yang kamu belum tahu karena sejak kecil kamu
sekeluarga harus ikut papamu yang nahkoda itu pindah ke Ibukota. Karena itu,
kamu sering ngajak aku ke pasar yang ada di jalan Jendral Sudirman, Salatiga.
Kamu minta aku menemanimu belanja sekaligus jadi translator bahasa jawa,
padahal aku juga gak banyak pakai bahasa jawa dalam pergaulanku sehari – hari.
Menemanimu belanja itu bikin aku cepat kurus. “Bakar
Lemak” istilahnya. Kamu itu seperti angin yang gak bisa diprediksi akan
berhembus kemana. Sebentar kamu hinggap di tempat penjual buku, sebentar kemudian
kamu udah di depan kios makanan tradisional. Sementara aku mengikutimu di
belakang dengan setia.
Berkali – kali kamu melihatku yang selalu ada
dibelakangmu. Menanyakan apakah aku lelah mengikutimu yang banyak gerak itu. Atau
menanyakan apakah aku lapar atau haus. Aku menggeleng.
padahal aslinya laper banget dan kakiku sangat lelah 😌
“Serius, Nov. Kamu gak mau aku belikan sesuatu?”
“Gak, aku gak ingin apapun”
Aku gak mengerti perasaan ini : “senang ketika melihat
dia bahagia”. Aku senang melihatmu bahagia ketika di pasar. Dan aku juga sabar
banget menjelaskan banyak hal kepadamu; menjawab semua pertanyaanmu tentang
semua yang yang tak kau temukan di Jakarta, tapi kamu temukan di Salatiga. Seperti
perasaanku padamu, yang tak pernah ku temukan sebelumnya.
Jumat, 22 Desember 2017
Gabriel...! #Cowok angkuh dari Jakarta part 1#
Salatiga, 2009
Raka, apakah kamu ingat saat kita pertama bertemu?
Semester pertama bagi mahasiswa baru dimulai, saat itu
adalah pertama kalinya masuk kelas. Tak kusangka aku akan menemukan pengalaman
cinta pertama kali disini.
Awalnya aku gak terlalu memperhatikan kamu. Kamu
begitu hening, dan selalu memilih duduk memisahkan diri tanpa kelompok. Ah,
iya…. kita sama – sama satu wali studi, Bapak Arief Sadjiarto. Pertama kali aku
mengajak bicara duluan, ketika menunggu kelas dimulai.
“Hey, kamu namanya siapa?”
“Raka….”, jawab kamu cuek dan tak menoleh sedikitpun
padaku
Dih sombong banget ni orang… pikirku
Okelah kesan pertamanya jelek banget, coba bayangin
tangan sudah disodorkan tapi malah dicuekin, bahkan orang yang ngajak kenalan
gak dilihat.
Dan, taukah…. Seminggu di awal di tiap mata kuliah,
aku selalu ketemu kamu…. Ternyata semua mata kuliah yang aku registrasikan sama
dengan yang kamu ambil… Godness…!!!
Tapi meskipun kamu sombong, aku tetap berusaha ramah…
aku selalu mengajak kamu ngobrol,, meskipun dicuekin… 😑
Sumpah deh aku nggak ngerti,
ni cowok ganteng kagak, sombongnya selangit.
Hari persiapan makrab pun tiba, aku berharap
sekelompok dengan salah satu saja anggota genk ku. Genk yang isinya 7 orang
cewek : Sisca, Kristi, Cahya, Dewi, Norma, Marine, dan aku Novita.
Sialnya, ketika pembagian kelompok makrab progdi, gak
ada satupun anggota genk yang sekelompok sama aku. Yang ada nama kita dibacakan
dalam satu kelompok. Coba kamu bayangkan harus kerjasama dengan orang yang
karakternya seperti itu. Tapi sungguh diluar dugaan justru kita bisa menjadi
partner yang solid.
Maaf, aku telah salah menilaimu…
Bahkan lebih dari itu,
sepertinya cupid telah menembakkan panah tepat di hati kita berdua. Aku dan
kamu mulai saling memperhatikan satu sama lain. Dimulai dari nanya sudah makan
apa belum meskipun sebenarnya basa basi belaka, ya iyalah udah gede gak usah
ditanya soal makan, kalau lapar ya makan sendiri. Dan aku ingat kita saling
mencari bila salah satu tidak ada dalam kelompok. Gak lihat kamu, aku merasa
janggal.
Selama makrab berlangsung kita sering terlihat berdua.
Pantas saja kalau kemudian berhembus kabar kita pacaran, padahal kita gak
pernah pacaran sampai akhir perjumpaan denganmu. Kalau waktu makan siang atau
sarapan, kamu belum juga terlihat, aku segera menelpon sebelum makanan habis
dimakan mahasiswa – mahasiswa kelaparan.
Puncak dari acara makrab adalah malam inagurasi. Aku
ingat ketika itu kelompoknya Iblis ngedance. Kita berdua duduk paling belakang.
Saat semua cowok posisi duduknya maju, melihat seksinya Iblis ngedance. Kamu
gak beranjak sedikitpun dari sampingku.
Suasana dalam gedung itu remang – remang. Meski riuh
musik dance dan ributnya mahasiswa mahasiswi. Tapi diantara kita berdua,
terdiam cukup lama. aku mencoba memecah keheningan diantara kita berdua,
“Semua cowok maju ke depan, kog kamu masih disini?”
“ Gak, ah…”
“Iblis kan seksi, kamu gak suka?”
“ kamu tahu gak, bedanya seksi sama manis?”
Aku menggelengkan kepala.
“ Seksi itu bikin cepet bosan, kalau manis itu awet,
gak hilang –hilang”
Sejenak kemudian anak – anak tertawa, melihat Yosep tampil
ngedance dengan dandanan cewek. Aku melihat ke arahmu yang sedang tertawa. Aku
baru menyadari kalau hal termanis di dunia ada tepat di sampingku saat itu.
Makrab Program studi adalah kesempatanku untuk
mengenal lebih jauh kamu, cowok berkulit gelap bertubuh cungkring dengan tinggi
170an. Termasuk ketika kamu cemburu, begitu lucu dan manis. Kamu ingat pertama
kali kamu kesal padaku?.
Aku ingat ketika acara makrab selesai dan kita kembali
ke Salatiga. Padatnya sesi acara makrab membuat tubuhku gak kuat menahan lelah.
Padahal pulangnya naik truk. Aku yang dari awal milih berdiri di depan biar
bisa sandaran di pojokan, beneran ketiduran padahal banyak cowok disitu. Ketika
sadar, samar – samar yang ku lihat kamu berdiri di depanku, menatapku kesal.
Loh… loh kan kamu kan tadi di bagian paling belakang??. Aku benar – benar malu
ditatap terus seperti itu. Aku kemudian berdiri berbalik melihat pemandangan
pepohonan, pura – pura gak lihat.
Aku selalu bertanya – tanya, Raka…. Ini pertama
kalinya aku melihat reaksi tak biasa dari lawan jenis… aku bingung sebenarnya kamu
kenapa?
(bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)