a melancholist's journal: in deepest sea... I found blue.. it's calm, peaceful and so deep
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Rabu, 30 Mei 2012
Jaman Kelam Indonesia 1965 : Jawaban mengapa kami generasi muda tidak tahu
Peristiwa yang terbesar, yang selalu terbayang ketika era 1965 adalah G30S. peristiwa kisruh dengan korban para Jendral TNI/AD yang konon katanya didalangi PKI. Kenapa konon katanya? Saya juga tidak tahu bagaimana persisnya, karena saya lahir 25 tahun setelahnya. saya hanya tahu dari buku sejarah dan semenjak SD, Guru dan Orang Tua saya memang mengatakan demikian. Tentunya dibumbui dengan cerita – cerita seram yang membuat bulu kunduk kita merinding. Lalu kita menjadi sangat antipati terhadap kata komunis.
Lalu, apa sebenarnya komunisme itu? samakah dengan Atheisme?
Komunisme timbul akibat dari adanya kontra terhadap kapitalisme. Pertama kali dicetuskan oleh Karl Marx. Bila kapitalisme mengenal pembagian kelas dalam ekonomi produksi, maka komunisme adalah kebalikannya. Komunisme menganut paham kesetaraan untuk mencapai masyarakat sosialis menuju masyarakat utopia. Menurut yang saya baca di wikipedia, bahwa komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan sistem partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan akumulasi modal pada individu. pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata. Jika membaca kalimat ini, saya teringat Undang – Undang Dasar Negara tahun 1945 pasal 33, tentang kesejahteraan sosial.
Komunisme ala Indonesia waktu itu bukanlah komunisme yang berlandasan pada teori Materialisme Dialektika dan Materialisme Historis oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan mitos, takhayul dan agama dengan demikian tidak ada pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa "agama dianggap candu" yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi). Buktinya banyak anggota PKI, Lekra, ataupun Gerwani yang memeluk agama. Terbesar penganut agama Islam dan Katholik. Teori materialisme dialektika hanya terdapat di beberapa negara seperti Uni soviet yang sekarang sudah runtuh. Dan konon cerita yang disampaikan pada saya bahwa tokoh yang ngomong bahwa agama itu candu pun, pada akhir hayatnya mengakui adanya Tuhan. Jadi jika ada cerita yang disampaikan dulu oleh guru SD saya bahwa orang PKI pernah mengajarkan bahwa Tuhan tidak ada itu tidak benar. Bahkan cerita – cerita di buku di perpustakaan kampus bahwa orang – orang itu justru orang – orang yang dekat dengan rakyat. Beberapa artikel juga menyatakan bahwa orang PKI juga membantu membangun tempat ibadah. Sayangnya, semua terlanjur kelam. Saya di sekolah tidak diajarkan demikian. Semua tentang yang buruk saja.
Semua cerita itu sudah meresap dalam otak masyarakat, bahkan ibu saya dahulu pun bila bercerita tentang pemberontakan PKI, seolah menganggap PKI itu sesuatu yang buruk.
Pro dan Kontra G30S
Peristiwa Pembunuhan para Jenderal TNI/AD di akhir tahun 1965 masih tidak jelas. Tahu – tahu sudah di doktrin bahwa yang bersalah PKI. Dan kemudian sampai merambah pada penangkapan semua organisasi – organisasi di bawah PKI. Seperti Lekra dan Gerwani. Padahal ketika itu PKI dan organisasi dibawahnya merupakan masa yang besar. merekapun ditangkap dan disiksa tanpa peradilan hukum yang jelas. Media masa yang ada juga memberitakan berbagai berita yang kejam ( waktu itu yang beredar di masyarakat media masa Berita Yudha, sedangkan yang lain dilarang terbit). Ada apa di belakang semua ini? Mengapa sampai pers dibungkam? Seolah ada sesuatu yang ditutup – tutupi. Akhirnya karena hanya ada satu dan satu – satunya informasi, otomatis masyarakat hanya menerima itu, tanpa ada pembanding.
Tercatat dalam dampak dari peristiwa tersebut adalah jutaan orang dibantai tanpa peradilan, lainnya hilang, dan lainnya lagi hidup tanpa kebebasan. Jika kita lihat yang terjadi sebelum peristiwa itu, Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1959 menyampaikan pidato kenegaraan yang berjudul “ Penemuan Kembali Revolusi Kita “, dimana revolusi kita adalah gerak untuk melawan imperialisme dan kolonialisme menuju Indonesia yang mandiri. Dan jika lebih jauh lagi kita melihat pada tahun 1926, Bung Karno mencetuskan “NASAKOM” yaitu penggabungan tiga aliran masa yang ada di Indonesia yaitu Nasionalis, Agama dan Komunisme, dalam menghimpun kekuatan berdasarkan Pancasila sila yang ke (3) “ Persatuan Indonesia” sesuai dengan azas Bhinneka Tunggal Ika. Dalam sejarah, golongan Komunis – lah yang kemudian berhasil mengembangkan massanya.
Golongan komunis, yaitu PKI telah mengadakan berbagai gebrakan. Yang saya tahu hanya dua tapi saya yakin banyak yang telah dilakukan oleh Partai ini. Pertama soal emansipasi wanita, dibentuk Gerwis yang kemudian menjadi GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), yang sampai bisa menjadi sebuah gerakan wanita terbesar di Indonesia. Beberapa dari kelanjutan kiprah Gerwani adalah menentang poligami, memperjuangkan hak – hak wanita, sampai pada menuntut agar para pekerja wanita diberikan hak cuti haid. Betul – betul sampai sedetil itu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Dan saya dapat katakan dari hal yang kecil itu, kita bisa lihat sosialisme itu seperti apa. Sama tinggi, sama rendah, sama rasa, sama rata. Namun sayangnya, Soekarno waktu itu sendiri poligami. Jadi belum bisa kita katakan berhasil.
Lalu dalam kebudayaan, kemudian lahirlah Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Kalau berbicara tentang Lekra saya harus berhati – hati. Ada dua pendapat yang berkembang bahwa Lekra bukan PKI hanya Organisasi kesenian dibawah naungan PKI, atau memang Lekra berdiri sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan PKI, memang beberapa anggota Lekra adalah orang – orang PKI tetapi tidak semua. Yang saya salutkan adalah Lekra ini, menjangkau seluruh seniman se – Tanah Air apapun seninya asalkan selama ia setia pada kebenaran, keadilan dan kemajuan, dan selama ia mengusahakan keindahan artistik yang setinggi-tingginya dan LEKRA mengulurkan tangan kepada organisasi kebudayaan yang lain dari aliran atau keyakinan apapun untuk bekerjasama dalam pengabdian ini, seperti yang ditulis dalam mukadimahnya........... ( Bersambung )
Syair untuk Bung Karno
#1
Putra lahir menyongsong Surya,
Pemutus rantai – rantai kolonialisme
membawa kebebasan,
Bertarung maut dengan suara nuraninya,
Dari orang – orang yang berada di kakinya,,
Dia lahir membawa terang,
Dari perbudakan modern,
Dia ditinggikan….
Sabdanya api,
Membakar sanubari perlawanan,
Imperialisme lawannya,
Kolonialisme jadi musuh utama,
Membawa tekad,
Sang Garuda perkasa,
Lepaslah terbang tinggi diangkasa….
#2
Tahun 1965
Umurku telah lanjut,
Kursiku mulai lapuk,,,
Anakku mulai bisa berjalan,,
Anak yang dahulu aku perjuangkan…
Kini mulai bisa merengek,,
Anakku, lupakah engkau??
Perjuangan mencapai stagnasi…
Ku nyanyikan lagu kita dahulu,
“Nasakom bersatu”
Kubisikkan dalam lelapmu,
“Revolusi belum berakhir”
Lalu ku lihat dimatamu,
Aku tahu itu,
Kau mulai bosan denganku,,,,
Ku katakan padamu,
Janganlah satu tubuh saling mendengki…
Ku teriakan padamu,
“Hei, sudah jangan saling berkelahi”
Tapi engkau berlalu pergi,
“ Anakku kembali…..”
Tak mau tahu,
Ulu hati makin nyeri…..
#3
Fajar kini beranjak malam,,
Tanpa aku sadar,
Matahari kan terbenam,
Belum kuselesaikan hari…
Belum ku tepati revolusi….
Garuda itu telah ku bawa terbang,
Namun hinggap kembali,,
Memang kini lebih tinggi,,
Aku kini seonggok daging,
Kan habis dikerumuni,
Lalu hilang,
Juga kenangan tentangku….
by : Alberta Novita, salatiga 20 Mei 2012
#4
Harus ku katakan apa??
Anakku telah lupa bapaknya….
Dia tentu lebih perkasa,
Minum susu import…
Produk asing….
Tentu ia lebih pintar,
Hasil adopsi budaya barat….
Dan sederet titel dibelakang namanya…
Bapakmu bukan apa – apa,,
Dan harus berkata apa?....
by : Alberta Novita, salatiga 20 Mei 2012
#5
Lama menunggu mati,
Aku terlanjur terluka hati,
Tak ada waktu membela diri…
Percuma, percuma sudah….
Tak ada yang peduli,,
Akupun lelah dengan semua ini….
Saat – saat terakhir,,,
Ah, Hatta….
Kau rupanya,,,
Tetap dengan senyummu itu…
Kau rangkul aku, sahabat….
Mega,
Teguhkan hatimu seperti aku,
Untuk diriku,
Hantarlah aku dengan senyummu…
Akupun ingin tersenyum pada dunia,,
Dunia yang ku besarkan,
Hampir menghapus aku,
Dan mencatat sejarah yang baru…..
Ku harap esok lebih baik…..
by : Alberta Novita, salatiga 20 Mei 2012
#6
Hei Rezim baru,
Tanganmu telalu kotor…
Telah kau potong lidahku,
Lidah yang dulu,
Pernah berseru juga untukmu
Kata terakhirku,
Aku ingin bertemu sahabatku,
Petani di priangan….
Tempat hatiku bersatu,
Dengan Marhaenisme
Maka tempat tubuhku pula…
Tapi tak kau kuburkan aku di sana….
Kau tempatkan tubuhku,
dipusara terasing,
apa beda hidupku kemarin?...
by : Alberta Novita, salatiga 20 Mei 2012
Senin, 28 Mei 2012
Demokrasi Model Apa ini????
Ada yang marak di pemberitaan akhir - akhir ini. Ialah tentang Ibu Presiden kita, Ani Yudhoyono yang mencalonkan diri untuk pemilu periode yang akan datang. Orang yang berbeda, tapi satu keluarga, satu parpol, dan berurutan waktu dengan suaminya. Mungkin benar bila seseorang sudah berada di atas dan nyaman, enggan jatuh ke bawah. Inikah Demokrasi ala Indonesia?
Well, mengapa saya mempertanyakan hal ini?
Menurut YB. Mangunwijaya, Demokrasi diibaratkan sebuah tanaman hidup. Untuk dapat tumbuh dan berkembang, Demokrasi membutuhkan tanah tumbuh yang pas memenuhi styarat - syarat tertentu. Syarat - syaratnya antara lain :
Indonesia akan kembali pada zaman era Soeharto, hanya ini bentuk terbaru "BERTAHANNYA KEKUASAAN" orang- orang diatas. bukankah budaya kita masih saja : Istri tunduk pada Suami?.
kejadian Presiden satu keluarga yang lainnya : Megawati Soekarnoputri
bila kita bedakan dengan Megawati Soekarnoputri :
Ayahnya Presiden pertama, yang jauh sebelum Ibu Mega menjadi Presiden Bung Karno sudah wafat. jadi tidak ada pengaruh apa - apa selain daripada ideologi dan cara pandang. Tentu beliau dalam menjalankan pemerintahan tetap menjadi diri sendiri.
Bung Karno dari partai PNI, beraliran Marhaenisme. aliran yang diambil dari nama Marhaen, seorang petani yang mengerjakan sawahnya sendiri untuk menghidupi istri dan keempat anaknya. begitulah kira - kira gambaran ideologi yang dikembangkan Soekarno. sementara sang putri, Ibu Mega, berasal dari PDI perjuangan.
Bu Mega bisa bersikap profesional sebagai Ibu Negara dan seorang Istri
Kasus Bu Mega bukan Nepotisme.
jadi Inikah kondisi Demokrasi milik KITA??? Mempertahankan kekuasaan dan manipulasi politik dengan "Boneka"????
silakan kasus ini direnungkan, saya yakin bangsa Indonesia masa kini adalah bangsa yang cerdas.
Well, mengapa saya mempertanyakan hal ini?
Menurut YB. Mangunwijaya, Demokrasi diibaratkan sebuah tanaman hidup. Untuk dapat tumbuh dan berkembang, Demokrasi membutuhkan tanah tumbuh yang pas memenuhi styarat - syarat tertentu. Syarat - syaratnya antara lain :
- suatu bangsa cukup rasional dan cerdas :
- Fair Play
- memberikan ruang untuk pemekaran pihak lain
Indonesia akan kembali pada zaman era Soeharto, hanya ini bentuk terbaru "BERTAHANNYA KEKUASAAN" orang- orang diatas. bukankah budaya kita masih saja : Istri tunduk pada Suami?.
kejadian Presiden satu keluarga yang lainnya : Megawati Soekarnoputri
bila kita bedakan dengan Megawati Soekarnoputri :
Ayahnya Presiden pertama, yang jauh sebelum Ibu Mega menjadi Presiden Bung Karno sudah wafat. jadi tidak ada pengaruh apa - apa selain daripada ideologi dan cara pandang. Tentu beliau dalam menjalankan pemerintahan tetap menjadi diri sendiri.
Bung Karno dari partai PNI, beraliran Marhaenisme. aliran yang diambil dari nama Marhaen, seorang petani yang mengerjakan sawahnya sendiri untuk menghidupi istri dan keempat anaknya. begitulah kira - kira gambaran ideologi yang dikembangkan Soekarno. sementara sang putri, Ibu Mega, berasal dari PDI perjuangan.
Bu Mega bisa bersikap profesional sebagai Ibu Negara dan seorang Istri
Kasus Bu Mega bukan Nepotisme.
jadi Inikah kondisi Demokrasi milik KITA??? Mempertahankan kekuasaan dan manipulasi politik dengan "Boneka"????
silakan kasus ini direnungkan, saya yakin bangsa Indonesia masa kini adalah bangsa yang cerdas.
Senin, 21 Mei 2012
“Manifestasi Politik dalam Undang – Undang Koperasi No. 14 tahun 1965”
Makalah Pengantar Koperasi
“Manifestasi Politik dalam Undang – Undang Koperasi No. 14 tahun 1965”
Disusun oleh :
Alberta Novita Indar Kusumaningsih (162009008)
Program Studi Pendidikan Ekonomi
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Kristen Satya Wacana
Salatiga
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Undang – Undang No 14 tahun 1965 pasal 3, dinyatakan definisi dari koperasi adalah organisasi ekonomi dan alat revolusi yang berfungsi sebagai tempat persemaian insan masyarakat serta wahana menuju sosialisme Indonesia berdasarkan Pancasila. Dalam pasal 4 yang mengatur tentang azas dan dasar bekerja, pada point (b) menyatakan bahwa koperasi bertujuan mengembangkan kesejahteraan anggota dan masyarakat dalam rangka mencapai dan membina masyarakat Sosialis Indonesia berdasarkan Pancasila tanpa penghisapan oleh manusia atas manusia. Hal ini sejalan dengan dekrit presiden tanggal 15 Juli 1959 salah satunya tentang diberlakukannya kembali Undang-Undang Dasar 1945 bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh Tanah Tumpah Darah Indonesia, terhitung mulai dari tanggal penetapan dekrit dan tidak berlakunya lagi Undang-Undang Dasar Sementara. Undang – undang ini juga merupakan perwujudan dari pidato kenegaraan Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul “ Penemuan Kembali Revolusi Kita ”, atau lebih dikenal dengan Manifesto politik (Manipol). Dalam pidato itu diuraikan berbagai persoalan pokok dan program umum Revolusi Indonesia yang bersifat menyeluruh. Berdasarkan Ketetapan MPRS No. 1/MPRS/1960 pidato itu ditetapkan sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara RI dan pedoman resmi dalam perjuangan menyelesaikan revolusi.
Revolusi, seyogyanya bersifat menyeluruh. Artinya seluruh rakyat dari golongan manapun juga seluruh aspek kehidupan masyarakat turut serta ambil bagian dalam perubahan (pembangunan). Itulah mengapa dengan adanya Dekrit Presiden dan Manipol, maka berpengaruh dalam perundang – undangan koperasi. Koperasi yang merupakan basis ekonomi kerakyatan diharapkan berperan sebagai alat dalam mewujudkan cita – cita meneruskan revolusi. Undang - Undang no 14 tahun 1965 merupakan keputusan final yang paling sesuai pada waktu itu, yang mencerminkan jiwa Undang – Undang Dasar 1945 dan Manipol. Namun, tak lama berselang setelah ditetapkannya Undang – Undang No. 14 Tahun 1965 (22 Agustus 1965), pada bulan Oktober terjadi peristiwa G30S. Undang – Undang ini dipermasalahkan karena dalam pasal 5 menyatakan bahwa koperasi harus mencerminkan semangat kegotong – royongan, dan NASAKOM yaitu Nasional, Agama, dan Komunis. Kemudian sepanjang tahun 1966 di desak untuk diganti dengan undang – undang yang baru yang sejiwa dengan koperasi. Tanpa mengandung unsur politik manapun.
B. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah “ Manifestasi Politik dalam Undang – Undang No 14 Tahun 1965” adalah :
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan sosialisme dalam Undang – Undang Koperasi No 14 Tahun 1965.
2. Untuk mengetahui peranan dari Undang – Undang No 14 tahun 1965 terhadap cita – cita revolusi bangsa Indonesia sebagaimana yang dinyatakan dalam pidato Manifestasi Politik Soekarno
C. Perumusan Masalah
1. Bagaimana yang dimaksud dengan sosialisme dalam Undang – Undang Koperasi No 14 tahun 1965?
2. Bagaimanakah peranan dari Undang – Undang No 14 tahun 1965 terhadap cita – cita Revolusi bangsa Indonesia?
BAB II
ISI
A. Sosialisme dalam Undang – Undang Koperasi No 14 tahun 1965
Definisi koperasi seperti yang telah dinyatakan dalam Undang – Undang No 14 tahun 1965 bahwa koperasi adalah organisasi ekonomi dan alat Revolusi yang berfungsi sebagai tempat persemaian insan masyarakat serta wahana menuju Sosialisme Indonesia berdasarkan Pancasila. Latar belakang politik Indonesia era tahun 1965, aliran politik negara kita menganut ideologi kiri yaitu sosialis atau demokrasi sosial. Sosialisme (sosialism) secara etimologi berasal dari bahasa Perancis sosial yang berarti kemasyarakatan. Istilah sosialisme pertama kali muncul di Perancis sekitar 1830. Umumnya sebutan itu dikenakan bagi aliran yang masing-masing hendak mewujutkan masyarakat yang berdasarkan hak milik bersama terhadap alat-alat produksi, dengan maksud agar produksi tidak lagi diselenggarakan oleh orang-orang atau lembaga perorangan atau swasta yang hanya memperoleh laba tetapi semata-mata untuk melayani kebutuhan masyarakat. Namun tidak dapat dikatakan bahwa yang dimaksud hak milik bersama berarti dimiliki sepenuhnya bersama, namun lebih mudah kita mengatakannya sebagai bentuk gotong - royong. Dalam pidato kenegaraan Presiden Soekarno, pada tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul " Penemuan Kembali Revolusi Kita " yang akhirnya ditetapkan sebagai Garis Besar Haluan Negara bahwa revolusi bangsa Indonesia belum berakhir. bangsa Indonesia masih harus mengupayakan kemandirian, agar benar - benar terlepas dari bangsa asing. Yang diharapkan agar rakyat bergotong royong, saling bahu membahu untuk membangun Negara dengan memberdayakan seluruh aspek termasuk ekonomi.
Di dalam penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1965 Tentang Perkoperasian bahwa dalam merumuskan pengertian dan fungsi koperasi Indonesia pada pasal ini ditegaskan bahwa koperasi Indonesia mempunyai dua wajah yakni sebagai "organisasi ekonomi" dan sebagai "alat Revolusi". Bidang atau wilayah koperasi terutama sekali adalah wilayah ekonomi. Sebagai alat revolusi, koperasi Indonesia mempunyai fungsi sebagai tempat persemaian insan masyarakat dan merupakan wahana menuju ke alam Sosialisme. Koperasi Indonesia dan Sosialisme Indonesia tidak dapat dipisah-pisahkan, sebab Sosialisme Indonesia adalah jiwanya koperasi. Dunia Sosialisme adalah dunia koperasi, masyarakat, Sosialisme adalah masyarakat koperasi. Oleh karena itu fungsi koperasi dalam Revolusi Indonesia adalah penting sekali, karena tujuan Revolusi Indonesia adalah jelas, yaitu masyarakat adil dan makmur, masyarakat tanpa penghisapan oleh manusia atas manusia, masyarakat Sosialisme Indonesia. Mencapai Sosialisme harus dilaksanakan secara revolusioner oleh karena Sosialisme Indonesia adalah hasil dari tindakan revolusioner. Oleh karena itu koperasi Indonesia tidak boleh tidak harus bersifat revolusioner.
Dalam UU No 14 tahun 1965, Koperasi berporoskan Nasakom ( Nasionalis, Agama dan Komunis), yang merupakan ide yang diciptakan oleh Soekarno dalam upayanya mempersatukan kekuatan-kekuatan politik/sosial terbesar di Indonesia dalam perjuangan untuk mencapai “masyarakat yang adil dan makmur” dengan semangat “gotong royong” terutama dalam melawan imperialisme.
B. Peranan undang – undang No 14 tahun 1965 terhadap cita – cita revolusi bangsa Indonesia
Peranan koperasi sebagaimana telah diatur dalam pasal 6 dan pasal 7. Pasal 6 berbunyi “ Gerakan Koperasi mempunyai peranan :
a. Dalam tahap nasional demokrasis :
1. Mempersatukan dan memobilisir seluruh rakyat pekerja dan produsen kecil yang merupakan tenaga-tenaga produktif untuk meningkatkan produksi, mengadilkan dan meratakan distribusi;
2. Ikut serta menghapus sisa-sisa imperalisme, kolonialisme dan feodalisme;
3. Membantu memperkuat sektor ekonomi Negara yang memegang posisi memimpin;
4. Menciptakan syarat-syarat bagi pembangunan masyarakat sosialis Indonesia.
b. Dalam Tahap sosialisme Indonesia :
1. Menyelenggarakan tata ekonomi tanpa adanya penghisapan oleh manusia atas manusia;
2. Meningkatkan tingkat hidup rakyat jasmaniah dan rokhaniah;
3. Membina dan mengembangkan swadaya dan daya kreatif rakyat sebagai perwujudan masyarakat gotong-royong.”
Pasal 7 menyatakan sebagai berikut :
1. Pemerintah menetapkan kebijaksanaan pokok perkoperasian.
2. Dengan Peraturan Pemerintah diatur hubungan antara gerakan koperasi dengan Pemerintah, Perusahaan Negara/Perusahaan Daerah dan swasta bukan koperasi”
Yang dimaksudkan pasal 7 dalam memori penjelasan bahwa untuk menjamin azas demokrasi terpimpin dan ekonomi terpimpin kebijaksanaan ditetapkan perkoperasian oleh Pemerintah.
Dampak dari kedua pasal tersebut adalah ketika MUNASKOP II, selain mensahkan Undang – Undang No 14 tahun 1965, juga memutuskan KOKSI ( Kesatuan Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia ) keluar dari keanggotaan ICA.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan :
Koperasi berperan dalam mencapai cita – cita bangsa yaitu kemandirian, tanpa bergantung pada pihak asing. Hal itu dikarenakan koperasi menjunjung tinggi kegotong – royongan dalam anggota. Dalam Undang – Undang No 14 tahun 1965, koperasi bukanlah dijadikan alat namun sebagai gerakan rakyat yang mempersatukan berbagai golongan. Peranan yang telah dicapai Undang – Undang No 14 tahun 1965 adalah koperasi Indonesia dapat mencapai kemandiriannya dengan keluarnya KOKSI dari ICA.
Selasa, 31 Januari 2012
PEMBERHENTIAN BEASISWA BBM : TARIK – ULUR JANJI PEMERINTAH
Kenaikan BBM dimasa SBY yang tertinggi, adalah pada tahun 2005, yakni sebesar 120%. Pada saat itu, solusi yang ditawarkan pemerintah adalah kompensasi atau ganti rugi yang berbentuk program Bantuan Langsung Tunai ( BLT ), Bantuan Oprasional Sekolah ( BOS ), dan bantuan bantuan lain yang banyak dikritik berbagai pihak karena tidak memandirikan masyarakat. Pemerintah seolah lepas tanggung jawab, dan dengan begitu gampangnya menganggap semua persoalan itu selesai, padahal banyak persoalan sosial baru yang ditimbulkan. Mengapa harus ada kompensasi atau ganti rugi atas kenaikan BBM? BBM adalah komoditas yang sangat penting dan mendasar dan secara tidak langsung mempengaruhi barang – barang lainnya. Sebagai contoh, kenaikan BBM pada tahun 2005, secara langsung mempengaruhi biaya transportasi sehingga mengakibatkan naiknya harga beras dari yang semula Rp. 28.000 menjadi Rp. 33.000 per 10 kilogram, atau naik 17,85%. Dengan kata lain terjadi penurunan daya beli masyarakat, yang juga berdampak negatif pada penurunan akses pendidikan dan kesehatan, dan penurunan kesejahteraan masyarakat.
Pada dasarnya BBM selalu mengalami kenaikan harga, hanya berbeda pada masa Soeharto, BBM disubsidi dengan hutang dari luar negeri, sehingga harganya stabil, dan harga barang kebutuhan pokok relatif stabil. Semenjak terjadi krisis ekonomi, sekitar tahun 1997 dimana keadaan defisit anggaran negara, terjadi kesepakatan antara Indonesia dengan IMF dan WB, yang dikenal dengan LOI, dimana salah satu kesepakatan yang menuai kritik adalah penghapusan subsidi dan swastanisasi. Sehingga terjadi pengurangan subsidi secara bertahap. Tentu saja rakyat kecil lah yang dirugikan, sedangkan pertamina selalu diuntungkan. Agaknya ini pula yang menjadi pertimbangan pemerintahan SBY – JK, untuk menawarkan bantuan untuk rakyatnya : masyarakat membeli bahan bakar tanpa subsidi, hanya di beberapa sektor seperti pendidikan dan kesehatan, masyarakat memperoleh keringanan, meskipun banyak dikritik berbagai pihak terutama karena merusak mental masyarakat. Namun, pada tahun 2005 itu, pemerintah berjanji, tidak akan menaikkan harga BBM lagi.
Pada tahun 2008, terjadi kenaikan BBM kembali, meskipun tidak sebesar pada tahun 2005, akan tetapi tetap membuat kekecewaan masyarakat akan janji pemerintah. Ini merupakan bukti kegagalan pemerintahan SBY. Berbagai aksi dan demonstrasi dilakukan oleh kesatuan Mahasiswa dan aktivis pergerakan di berbagai penjuru negeri. Mereka memprotes kenaikan BBM yang dinilai akan semakin menyengsarakan rakyat kecil dan menuntut SBY untuk segera mundur. Ditengah berbagai protes dan aksi demo mahasiswa itu, secara tiba – tiba, muncul rencana pemerintah untuk menyalurkan kompensasi atas kenaikan BBM berupa bantuan beasiswa untuk perguruan tinggi, yang dikenal dengan beasiswa BBM. Solusi baru yang ditawarkan pemerintah ini, banyak dicurigai berbagai kalangan sebagai upaya untuk menghentikan gencarnya tuntutan mundur SBY – JK di berbagai daerah di tanah air, yang dilakukan mahasiswa. Jumlah beasiswa yang disediakan pemerintah sekitar Rp. 500.000 per semester. Beasiswa tersebut mulai diberikan pada tahun 2008 semester ganjil, walaupun dipertanyakan berbagai pihak.
Namun, mulai April 2012 nanti beasiswa tersebut akan dihentikan. Rencana pemerintah yang dulu tanpa konsep yang jelas, terbukti gagal. Pemerintah sangat tak bertanggung jawab. Sekarang, jelaslah dengan pencabutan subsidi BBM dan dampak naiknya harga – harga barang kebutuhan yang sudah sangat menyengsarakan rakyat dan kini ditambah biaya pendidikan yang tinggi, akan jadi seperti apa, rakyat kita? Bukankah tujuan dari negara kita salah satunya, “….. mencerdaskan kehidupan bangsa….” Secara tidak langsung, kita telah mencetak generasi – generasi yang egois. Pintar tapi buta. Buta akan keadaan lingkungan sekitar. Dengan biaya pendidikan yang semakin tinggi dan kondisi biaya hidup yang tinggi pula, maka mahasiswa akan berlomba, adu cepat selesai, pemikiran akan terpusat pada kompetisi. Bagaimana mahasiswa akan berkembang bila hanya belajar tanpa mau mengerti keadaan lingkungan sekitar?. Lalu, setelah lulus mereka tidak menjadi orang, tetapi instrumen industri. Tentu, dengan biaya pendidikan yang mahal, merekapun mencari pekerjaan dengan upah yang sebanding. Pendidikan tidak lagi memanusiakan. Sungguh miris. Disamping itu, pendidikan tinggi juga tak akan terjangkau untuk masyarakat miskin, maka makin bertambah kemiskinan di negeri ini. Ketika era dengan standar kompetensi yang tinggi, menuntut pendidikan tinggi yang tak mungkin dijangkau, maka makin banyak generasi kita yang kalah saing hanya karena ijazah yang tak mungkin didapatnya. Belum lagi persoalan kualitas pendidikan yang akan dipertanyakan, bila sulit bagi kita memperoleh pendidikan tinggi yang layak.
Bila memang pemerintah serius dengan pendidikan kita, maka jangan bermain – main dengan program – program tanpa kosep dan perencanaan yang matang, dan terkesan tarik – ulur. Sebab rakyat sudah jenuh dengan janji – janji yang tak nyata realisasinya. Dan masyarakat agar lebih kritis dan tidak asal meng iyakan program program pemerintah, terutama yang berdampak besar bagi generasi penerus bangsa.
Alberta Novita Indar Kusumaningsih
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Ekonomi
Universitas Kristen Satya Wacana
(085226337207)
Senin, 12 September 2011
Perempuan Indonesia
Perempuan
dalam budaya timur.
Dalam
budaya feodal Indonesia, hampir dipastikan bahwa perempuan selalu menempati
kelas kedua. Dikenal istilah dalam budaya Jawa ‘kanca wingking” ( teman belakang ) atau wanita itu wani ditata. Mungkin tak banyak orang tahu bahwa
sebenarnya di kalangan keraton sudah ada prajurit wanita, di kisah pewayangan,
dikenal tokoh Srikandi, seorang prajurit wanita yang berhasil membunuh
Bisma,dalam perang baratayudha dengan bantuan Arjuna atau tokoh drupadi yang
bersuami 5 pandawa, dalam mahabarata versi asli dari india dimana setelah di
jawanisasi drupadi hanya bersuami Yudhistira. Banyak hal yang sebenarnya menyiratkan
bahwa sebenarnya wanita itu setara dengan kaum pria. Namun dalam budaya
feodalisme, kaum wanita terkungkung dan terbelakang, dengan banyak aturan.
Perempuan
Indonesia dari masa ke masa
Pertama
kali timbul kesadaran tentang kesetaraan gender dipelopori oleh RA Kartini,
wanita jepara ini sering kali dalam surat – suratnya menggambarkan kemarahan
dan keperihatinannya terhadap budaya yang membelenggu dirinya untuk
memperjuangkan rakyat Jawa, khususnya wanita. Kemudian gerakan – gerakan
lainnya, seperti yang dilakukan oleh Dewi Sartika, di Bandung. Mereka lebih
menekankan pada pentingnya pendidikan bagi para perempuan. Mereka sadar bahwa
pendidikan pertama kali untuk anak terjadi dalam keluarga, dimana yang paling
berperan besar adalah seorang ibu, nah,
jika ibu tidak berpendidikan, bagaimana masa depan anak sebagai generasi
penerus bangsa??? Berdasarkan pemikiran inilah, pendidikan bagi perempuan
diperlukan, untuk meningkatkan kecakapan seorang perempuan sebagai seorang ibu.
Pada
tahun 1912, muncul organisasi wanita formal modern yang pertama, Putri Mardika,
di Jakarta yang memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan, mendorong kaum
perempuan agar berani tampil di depan umum, dan mengangkat kedudukan perempuan
menjadi setara dengan laki – laki. Kesadaran semakin berkembang dan keinginan
perempuan untuk lebih maju semakin besar, membuat banyak berkembang organisasi
perempuan yang bersifat kedaerahan. Misalkan saja Keutamaan Istri yang banyak
mendirikan sekolah perempuan di Jawa Barat, kemudian, organisasi perempuan
Kartini, yang juga mengadakan pendidikan perempuan di berbagai daerah di pulau
Jawa. Sesudah tahun 1920 banyak organisasi wanita berlatar belakang agama, seperti
Aisyiyah, Wanudijo Utomo, Serikat putri Islam, dan wanita katholik, yang telah
bergerak dalam pekerjaan sosial.
Gerakan
gerakan wanita yang telah maju kemudian timbul kesadaran politik, dimulai dari
Kongres I wanita di Yogyakarta, yang diikuti oleh perwakilan organisasi –
organisasi perempuan, yaitu Wanito Utomo, Puteri Indonesia, Wanita Katholik,
Wanita Muljo, Aisyiyah, Serikat Istri Buruh Indonesia, Jong Java, Wanita Taman
Siswa. Pada tahun 1932, muncul organisasi wanita paling radikal, Istri Sedar,
yang tidak disukai banyak organisasi perempuan Islam kerena dianggap menyimpang
dari kaidah Agama. Organisasi ini juga ikut terlibat dan terjun langsung dalam
perjuangan untuk kemerdekaan nasional.
Pada
masa penjajahan jepang, terdapat organisasi perempuan yang bertujuan mendukung
perang, Fujinkai. Dan yang terjadi pada wilayah penjajahan jepang, selama
perang dunia ke II, banyak wanita dijadikan
“ Jugun Ianfu” atau budak seks tentara jepang, para Jugun Ianfu berusaha lepas dan melakukan
perjaungan diam – diam, dengan bekerja sama dengan tentara nasional, sehingga
mereka juga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Rabu, 17 Agustus 2011
Merdeka (?)
kata orang, hari ini, hari kemerdekaan....
tapi, apa bedanya dengan hari hari biasa??
aku tak melihatnya, selain daripada upacara bendera di kantor kantor, sekolah, dan kampus...
memang, benarkah kita benar benar sudah merdeka??
aku tak merasakannya....
bagiku hari sama saja....
bagiku, 1 bulan yang lalu, 1 tahun yang lalu, 1 hari yang lalu, 1 minggu yang lalu, sama saja, berlalu dengan mudah tanpa ada yang berubah....
kemerdekaan itu milik siapa??
mungkin kita merdeka dari penjajah, tetapi tidak merdeka dari bangsa sendiri....
kemerdekaan hanya bagi sekelompok orang2 tertentu....
tapi, apa bedanya dengan hari hari biasa??
aku tak melihatnya, selain daripada upacara bendera di kantor kantor, sekolah, dan kampus...
memang, benarkah kita benar benar sudah merdeka??
aku tak merasakannya....
bagiku hari sama saja....
bagiku, 1 bulan yang lalu, 1 tahun yang lalu, 1 hari yang lalu, 1 minggu yang lalu, sama saja, berlalu dengan mudah tanpa ada yang berubah....
kemerdekaan itu milik siapa??
mungkin kita merdeka dari penjajah, tetapi tidak merdeka dari bangsa sendiri....
kemerdekaan hanya bagi sekelompok orang2 tertentu....
selamat hari merdeka bagi yang merayakannya....!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)