Kontributor

Minggu, 14 Oktober 2012

seorang wanita dan sepotong ambisi : IBUKU, STRONG WOMAN

CEWEK TUKANG NGOROT!!!!, itulah yang terngiang dan tertancap di dadaku sebagai sebuah luka. Heyy, siapa kamu??? Kamu tak mengenal aku. Jelas kamu salah. dengan keteladanan seorang Ibu yang mandiri. aku melihat bahwa seorang wanita bisa berbuat lebih dari seorang laki - laki, tanpa melupakan kodratnya. Dengan niat, dengan tekad ditangannya. Ibulah yang menegakkan kembali tiang - tiang perekonomian keluarga kami. dengan tiga pilar, untuk ketiga putri yang amat dicintainya. Putri - putri yang terkondisikan untuk menjadi kuat, berani dan tangguh. dan juga sifat - sifat maskulinitas yang lainnya.

Sejak ayah sering sakit? siapa yang membetulkan genting rumah? yang naik ke atap dengan tangga? IBU yang melakukannya. dan kami, putri - putrinya saling menjaga dan saling membantu satu sama lain. terutama untuk adik kecil kami. dan kami melakukannya dengan tulus. Aku, anak tertua di keluargaku juga menyadari tanggung jawabku pada keluargaku, kdua orang tuaku dan kedua adikku.tidak pernah aku meminta banyak dari orang tuaku, apalagi laki - laki yang baru ku kenal. Aku selalu berusaha sebelum meminta, karena terbiasa. sebagai anak pertama, aku lah yang melihat bagaimana usaha orang tuaku. tak mudah membangkitkan kembali gairah keuangan keluargaku. Ibu pernah berjualan gorengan, kerupuk, makaroni, sampai usaha sprei. semua jatuh bangunnya tidak hanya ku lihat, tetapi ku rasakan juga sebagai seorang anak.

Ibu berhasil membiayai sekolah putri - putrinya. semua kebutuhan rumah terpenuhi, termasuk pinta manja si kecil, adik kami. aku menyebut beliau "THE STRONG WOMAN". beliau wanita terkuat yang pernah ku lihat, tidak meninggalkan ayahku disaat jatuh, bahkan berusaha sekuat tenaga untuk keluarga. bukan wanita egois yang mementingkan kepentingan prribadi, bukan wanita gila belanja, bahkan malah berkorban waktu dan kesempatan untuk kesenangannya. beliau selalu siap sedia untuk kami, membimbing kami. beliau sangat sederhana bahkan jarang berdandan, tetapi bagiku, beliau tanpa dandanan pun sudah cantik.

satu pesan Ibuku : "jadilah wanita yang mandiri dan tidak tergantung laki - laki, sebagai wanitapun, harus bisa  mengandalkan diri sendiri setiap saat. dan itulah Ibu, bukan wanita yang hanya ongkang - ongkang kaki, menunggu gaji bapak. telah banyak ku jumpai Ibu teman - temanku yang seperti ini, mereka wanita yang luar biasa karena bisa survive. dan saya bangga sebagai wanita terhadap mereka:)

Dan, inilah hasilnya. Tiga pilar untuk ketiga putrinya, agar rumah kami tak runtuh. keberanian, kekuatan, ketangguhan, ketabahan, dan keutamaan jiwa, yang membentuk kami. tak lupa kebersihan hati bapak, karena bapak bukan PNS yang Korup!!! bahkan dengan jabatan yang Wooowww sekalipun, kami tak punya mobil, hanya satu motor butut yang lama telah dijual. inilah benih - benih sifat kami. kami bukan orang desa, bayangkan orang kota, jabatan Wooowww, gak punya banyak harta, tetapi kami kaya akan cinta. ini keluarga kami yang sederhana dan damai.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar