Kontributor

Senin, 12 September 2011

Perempuan Indonesia

Perempuan dalam budaya timur.
Dalam budaya feodal Indonesia, hampir dipastikan bahwa perempuan selalu menempati kelas kedua. Dikenal istilah dalam budaya Jawa ‘kanca wingking” ( teman belakang ) atau wanita itu wani ditata. Mungkin tak banyak orang tahu bahwa sebenarnya di kalangan keraton sudah ada prajurit wanita, di kisah pewayangan, dikenal tokoh Srikandi, seorang prajurit wanita yang berhasil membunuh Bisma,dalam perang baratayudha dengan bantuan Arjuna atau tokoh drupadi yang bersuami 5 pandawa, dalam mahabarata versi asli dari india dimana setelah di jawanisasi drupadi hanya bersuami Yudhistira. Banyak hal yang sebenarnya menyiratkan bahwa sebenarnya wanita itu setara dengan kaum pria. Namun dalam budaya feodalisme, kaum wanita terkungkung dan terbelakang, dengan banyak aturan.
Perempuan Indonesia dari masa ke masa
Pertama kali timbul kesadaran tentang kesetaraan gender dipelopori oleh RA Kartini, wanita jepara ini sering kali dalam surat – suratnya menggambarkan kemarahan dan keperihatinannya terhadap budaya yang membelenggu dirinya untuk memperjuangkan rakyat Jawa, khususnya wanita. Kemudian gerakan – gerakan lainnya, seperti yang dilakukan oleh Dewi Sartika, di Bandung. Mereka lebih menekankan pada pentingnya pendidikan bagi para perempuan. Mereka sadar bahwa pendidikan pertama kali untuk anak terjadi dalam keluarga, dimana yang paling berperan besar adalah seorang ibu, nah,  jika ibu tidak berpendidikan, bagaimana masa depan anak sebagai generasi penerus bangsa??? Berdasarkan pemikiran inilah, pendidikan bagi perempuan diperlukan, untuk meningkatkan kecakapan seorang perempuan sebagai seorang ibu.
Pada tahun 1912, muncul organisasi wanita formal modern yang pertama, Putri Mardika, di Jakarta yang memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan, mendorong kaum perempuan agar berani tampil di depan umum, dan mengangkat kedudukan perempuan menjadi setara dengan laki – laki. Kesadaran semakin berkembang dan keinginan perempuan untuk lebih maju semakin besar, membuat banyak berkembang organisasi perempuan yang bersifat kedaerahan. Misalkan saja Keutamaan Istri yang banyak mendirikan sekolah perempuan di Jawa Barat, kemudian, organisasi perempuan Kartini, yang juga mengadakan pendidikan perempuan di berbagai daerah di pulau Jawa. Sesudah tahun 1920 banyak organisasi wanita berlatar belakang agama, seperti Aisyiyah, Wanudijo Utomo, Serikat putri Islam, dan wanita katholik, yang telah bergerak dalam pekerjaan sosial.
Gerakan gerakan wanita yang telah maju kemudian timbul kesadaran politik, dimulai dari Kongres I wanita di Yogyakarta, yang diikuti oleh perwakilan organisasi – organisasi perempuan, yaitu Wanito Utomo, Puteri Indonesia, Wanita Katholik, Wanita Muljo, Aisyiyah, Serikat Istri Buruh Indonesia, Jong Java, Wanita Taman Siswa. Pada tahun 1932, muncul organisasi wanita paling radikal, Istri Sedar, yang tidak disukai banyak organisasi perempuan Islam kerena dianggap menyimpang dari kaidah Agama. Organisasi ini juga ikut terlibat dan terjun langsung dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional.
Pada masa penjajahan jepang, terdapat organisasi perempuan yang bertujuan mendukung perang, Fujinkai. Dan yang terjadi pada wilayah penjajahan jepang, selama perang dunia ke II, banyak wanita dijadikan  “ Jugun Ianfu” atau budak seks tentara jepang,  para Jugun Ianfu berusaha lepas dan melakukan perjaungan diam – diam, dengan bekerja sama dengan tentara nasional, sehingga mereka juga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar